March 25, 2013

*Tugas Ekologi* Observasi Hutan Kota Malabar - Malang - Jawa Timur


Observasi Hutan Kota Malabar

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekologi.

Oleh
Juwita Amanda Lestari           115100900111004
Fitri Kurniawati                       115100900111026
Ginanjar Aji Santoso               115100901111017
Ken Raras Cestyakara             115100907111012
Silfi Arini                                 115100901111004


  
JURUSAN KETEKNIKAN PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013
  1. Sejarah Hutan Kota Malabar
            Awalnya, Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur (Walhi Jatim) Simpul Malang mencatat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir hutan kota yang ada di daerah ini  banyak yang beralih fungsi. Ahli fungsi hutan kota yang paling nyata adalah Akademi Penyuluh Pertanian (APP) Malang yang menjadi kawasan perumahan elite dan lapangan olahraga yang menjadi mal. Selain APP dan lapangan olahraga, Taman Kunir juga telah beralih fungsi menjadi kantor kelurahan. Sehingga perolehan Piala Adipura tersebut,  menurutnya, seolah menjadi tamparan terhadap pemerintah yang berjanji melindungi taman kota. Bahkan jalur hijau yang ada di Jalan Langsep dan Jalan Jakarta juga telah beralih fungsi. Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Malang menyusut dan diperkirakan tersisa tinggal 1,8% dari luas Kota Malang 110,6 km. Malang yang dari dulu terkenal dengan kota yang sejuk, dingin dan cocok sekali sebagai kota tempat peristirahatan. Namun seiring dengan fungsi kota Malang sebagai kota pendidikan. Hal ini disebabkan dengan semakin banyaknya manusia yang menghuni kota Malang dari berbagai wilayah di Indonesia, banyaknya aktivitas transportasi (sepeda motor, mobil dsb), dan juga alih fungsi lahan –lahan yang dulunya sebagai lahan resapan air menjadi pusat-pusat perbelanjaan seperti MATOS dan MOG.
            Seharusnya, sesuai Undang-Undang (UU) No. 26/2007 tentang Tata Ruang luas areal terbuka setidaknya 30% dari total luas wilayah.  20% ruang publik dan 10% untuk ruang privat. Dengan kondisi tersebut tidak disangka jika Kota Malang bisa mendapat Piala Adipura dan taman kota terbaik. Lantaran selama 10 tahun terakhir Kota Malang justru mengubah alih fungsi hutan kota.
            Oleh karena itu, Walhi Jatim Simpul Malang  menuntut Pemkot setempat  untuk segera merevitalisasi Malang sebagai kota bunga dengan mendirikan taman kota. Selain itu,  mengembalikan Malang sesuai sejarah seperti yang didesain arsitek Belanda dengan berdiri banyak taman Kota. Faktor yang menjadi penilaian atas prestasi tersebut adalah  keberhasilan Pemkot Malang membangun sumur resapan di taman kota. Sumur resapan tadi mampu mencuri perhatian tim penilai. Karena sumur resapan berperan penting terhadap cadangan air tanah.
            Sesuai namanya, hutan kota ini terletak di jalan Malabar dengan luas 16.718 m2. Ditengah – tengah hutan yang kerap dijadikan wahana rekreasi masyarakat kota Malang ini terdapat sebuah pohon beringin berusia puluhan. Dengan dasar pengelolaannya tercantum pada Perda Kota Malang No. 3 Tahun 2003.

A.    Fungsi Hutan Kota
Secara khusus, hutan kota telah diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 2002 Tentang Hutan Kota. Hutan kota merupakan kawasan hutan yang terletak di kawasan keramaian perkotaan memiliki berbagai macam fungsi, antara lain :
  1. Pelestarian Plasma Nutfah
Plasma nutfah merupakan bahan baku yang penting untuk pembangunan di masa depan, terutama di bidang pangan, sandang, papan, obat-obatan dan industri. Penguasaannya merupakan keuntungan komparatif yang besar bagi Indonesia di masa depan. Oleh karena itu, plasma nutfah perlu terus dilestarikan dan dikembangkan bersama untuk mempertahankan keanekaragaman hayati (Buku I Repelita V hal. 429). Hutan kota dapat dijadikan sebagai tempat koleksi keanekaragaman hayati yang tersebar di seluruh wilayah tanah air kita. Kawasan hutan kota dapat dipandang sebagai areal pelestarian di luar kawasan konservasi, karena pada areal ini dapat dilestarikan flora dan fauna secara exsitu.
  1. Penahan dan Penyaring Partikel Padat dari Udara
Udara alami yang bersih sering dikotori oleh debu, baik yang dihasilkan oleh kegiatan alami maupun kegiatan manusia. Dengan adanya hutan kota, partikel padat yang tersuspensi pada lapisan biosfer bumi akan dapat dibersihkan oleh tajuk pohon melalui proses jerapan dan serapan. Dengan adanya mekanisme ini jumlah debu yang melayang-layang di udara akan menurun. Partikel yang melayang-layang di permukaan bumi sebagian akan terjerap (menempel) pada permukaan daun, khususnya daun yang berbulu dan yang mempunyai permukaan yang kasar dan sebagian lagi terserap masuk ke dalam ruang stomata daun. Ada juga partikel yang menempel pada kulit pohon, cabang dan ranting.
Daun yang berbulu dan berlekuk seperti halnya daun Bunga Matahari dan Kersen mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menjerap partikel dari pada daun yang mempunyai permukaan yang halus (Wedding dkk. dalam Smith, 1981).
Manfaat dari adanya tajuk hutan kota ini adalah menjadikan udara yang lebih bersih dan sehat, jika dibandingkan dengan kondisi udara pada kondisi tanpa tajuk dari hutan kota.
  1. Peredam Kebisingan
Pohon dapat meredam suara dengan cara mengabsorpsi gelombang suara oleh daun, cabang dan ranting. Jenis tumbuhan yang paling efektif untuk meredam suara ialah yang mempunyai tajuk yang tebal dengan daun yang rindang (Grey dan Deneke, 1978).dengan menanam berbagai jenis tanaman dengan berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi akan dapat mengurangi kebisingan, khususnya dari kebisingan yang sumbernya berasal dari bawah. Menurut Grey dan Deneke (1978), dedaunan tanaman dapat menyerap kebisingan sampai 95%.
  1. Mengurangi Bahaya Hujan Asam
Menurut Smith (1985), pohon dapat membantu dalam mengatasi dampak negatif hujan asam melalui proses fisiologis tanaman yang disebut proses gutasi. Proses gutasi akan memberikan beberapa unsur diantaranya ialah : Ca, Na, Mg, K dan bahan organik seperti glumatin dan gula (Smith, 1981). Dengan adanya proses intersepsi dan gutasi oleh permukaan daun akan sangat membantu dalam menaikkan pH, sehingga air hujan menjadi tidak begitu berbahaya lagi bagi lingkungan. Hasil penelitian dari Hoffman et al. (1980) menunjukkan bahwa pH air hujan yang telah melewati tajuk pohon lebih tinggi, jika dibandingkan dengan pH air hujan yang tidak melewati tajuk pohon.
  1. Penyerap Karbon-monoksida
Bidwell dan Fraser dalam Smith (1981) mengemukakan, kacang merah (Phaseolus vulgaris) dapat menyerap gas ini sebesar 12-120 kg/km2/hari. Mikroorganisme serta tanah pada lantai hutan mempunyai peranan yang baik dalam menyerap gas ini (Bennet dan Hill, 1975). Inman dan kawan-kawan dalam Smith (1981) mengemukakan tanah dengan mikroorganismenya dapat menyerap gas ini dari udara yang semula konsentrasinya sebesar 120 ppm (13,8 x 104 ug/m3) menjadi hampir mendekati nol hanya dalam waktu 3 jam saja.
  1. Penyerap Karbon-dioksida dan Penghasil Oksigen
Hutan merupakan penyerap gas CO2 yang cukup penting, selain dari fito-plankton, ganggang dan rumput laut di samudera. Dengan berkurangnya kemampuan hutan dalam menyerap gas ini sebagai akibat menurunnya luasan hutan akibat perladangan, pembalakan dan kebakaran, maka perlu dibangun hutan kota untuk membantu mengatasi penurunan fungsi hutan tersebut.Cahaya matahari akan dimanfaatkan oleh semua tumbuhan baik hutan kota, hutan alami, tanaman pertanian dan lainnya dalam proses fotosintesis yang berfungsi untuk mengubah gas CO2 dan air menjadi karbohidrat dan oksigen. Dengan demikian proses ini sangat bermanfaat bagi manusia, karena dapat menyerap gas yang bila konsentrasinya meningkat akan beracun bagi manusia dan hewan serta akan mengakibatkan efek rumah kaca. Di lain pihak proses ini menghasilkan gas oksigen yang sangat diperlukan oleh manusia dan hewan.Widyastama (1991) mengemukakan tanaman yang baik sebagai penyerap gas CO2 dan penghasil oksigen adalah : damar (Agathis alba), daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea), lamtoro gung (Leucaena leucocephala), akasia (Acacia auriculiformis) dan beringin (ficus benyamina).
  1. Penyerap dan Penapis Bau
Daerah yang merupakan tempat penimbunan sampah sementara atau permanen mempunyai bau yang tidak sedap.Tanaman dapat digunakan untuk mengurangi bau. Tanaman dapat menyerap bau secara langsung, atau tanaman akan menahan gerakan angin yang bergerak dari sumber bau (Grey dan Deneke, 1978). Akan lebih baik lagi hasilnya, jika tanaman yang ditanam dapat mengeluarkan bau harum yang dapat menetralisir bau busuk dan menggantinya dengan bau harum. Tanaman yang dapat menghasilkan bau harum antara lain : Cempaka (Michelia champaka) dan tanjung (Mimusops elengi).
  1. Ameliorasi Iklim
Salah satu masalah penting yang cukup merisaukan penduduk perkotaan adalah berkurangnya rasa kenyamanan sebagai akibat meningkatnya suhu udara di perkotaan.Hutan kota dapat dibangun untuk mengelola lingkungan perkotaan agar pada saat siang hari tidak terlalu panas, sebagai akibat banyaknya jalan aspal, gedung bertingkat, jembatan layang, papan reklame, menara, antene pemancar radio, televisi dan lain-lain. Sebaliknya pada malam hari dapat lebih hangat karena tajuk pepohonan dapat menahan radiasi balik (reradiasi) dari bumi (Grey dan Deneke, 1978 dan Robinette, 1983). Robinette (1983) lebih jauh menjelaskan, jumlah pantulan radiasi surya suatu hutan sangat dipengaruhi oleh panjang gelombang, jenis tanaman, umur tanaman, posisi jatuhnya sinar surya, keadaan cuaca dan posisi lintang.Suhu udara pada daerah berhutan lebih nyaman dari pada daerah tidak ditumbuhi oleh tanaman.
  1. Penapis Cahaya Silau
Manusia sering dikelilingi oleh benda-benda yang dapat memantulkan cahaya seperti kaca, aluminium, baja, beton dan air. Apabila permukaan yang halus dari benda-benda tersebut memantulkan cahaya akan terasa sangat menyilaukan dari arah depan, akan mengurangi daya pandang pengendara. Oleh sebab itu, cahaya silau tersebut perlu untuk dikurangi.Keefektifan pohon dalam meredam dan melunakkan cahaya tersebut bergantung pada ukuran dan kerapatannya.Pohon dapat dipilih berdasarkan ketinggian maupun kerimbunan tajuknya.


  1. Meningkatkan Keindahan
Manusia dalam hidupnya tidak saja membutuhkan tersedianya makanan, minuman, namun juga membutuhkan sebuah keindahan.Benda-benda di sekeliling manusia dapat ditata dengan indah menurut garis, bentuk, warna, ukuran dan teksturnya (Grey dan Deneke, 1978), sehingga dapat diperoleh suatu bentuk komposisi yang menarik.Benda-benda buatan manusia, walaupun mempunyai bentuk, warna, dan tekstur yang sudah dirancang sedemikian rupa tetap masih mempunyai kekurangan yaitu tidak alami, sehingga tidak menjadi segar tampaknya di depan mata. Akan tetapi dengan menghadirkan pohon ke dalam sistem tersebut, maka keindahan yang telah ada akan lebih sempurna, karena lebih bersifat alami yang sangat disukai oleh setiap manusia.Tanaman dalam bentuk, warna dan tekstur tertentu dapat dipadu dengan benda-benda buatan seperti gedung, jalan, dsb untuk mendapatkan komposisi yang baik. Peletakan dan pemilihan jenis tanaman harus dipilih sedemikian rupa, sehingga pada saat pohon tersebut telah dewasa akan sesuai dengan kondisi yang ada. Warna daun, bunga atau buah dapat dipilih sebagai komponen yang kontras atau untuk memenuhi rancangan yang nuansa (bergradasi lembut). Komposisi tanaman dapat diatur dan diletakkan sedemikian rupa, sehingga pemandangan yang kurang enak dilihat seperti : tempat pembuangan sampah, pemukiman kumuh, rumah susun dengan jemuran yang beraneka bentuk dan warna, pabrik dengan kesan yang kaku dapat sedikit ditingkatkan citranya menjadi lebih indah, sopan, manusiawi dan akrab dengan hadirnya hutan kota sebagai tabir penyekat di sana.
  1. Mengurangi Stres
Kehidupan masyarakat di kota besar menuntut aktivitas, mobilitas dan persaingan yang tinggi. Namun di lain pihak lingkungan hidup kota mempunyai kemungkinan yang sangat tinggi untuk tercemar, baik oleh kendaraan bermotor maupun industri. Petugas lalu lintas sering bertindak galak serta pengemudi dan pemakai jalan lainnya sering mempunyai temperamen yang tinggi diakibatkan oleh cemaran timbal dan karbon-monoksida (Soemarwoto, 1985). Oleh sebab itu, gejala stres (tekanan psikologis) dan tindakan ugal-ugalan sangat mudah ditemukan pada anggota masyarakat yang tinggal atau mereka yang hanya bekerja untuk memenuhi keperluannya saja di kota. Program pembangunan dan pengembangan hutan kota dapat membantu mengurangi sifat yang negatif tersebut. Kesejukan dan kesegaran yang diberikannya akan menghilangkan kejenuhan dan kepenatan. Cemaran timbal, CO, SOx, NOx dan lainnya dapat dikurangi oleh tajuk dan lantai hutan kota. Kicauan dan tarian burung akan menghilangkan kejemuan. Hutan kota juga dapat mengurangi kekakuan dan monotonitas.
  1. Meningkatkan Industri Pariwisata
Bunga bangkai (Amorphophallus titanum) di Kebun raya Bogor yang berbunga setiap 2-3 tahun dan tingginya dapat mencapai 1,6 m dan bunga Raflessia Arnoldi di Bengkulu merupakan salah satu daya tarik bagi turis domestik maupun manca-negara. Wisatawan asing pun akan mempunyai kesan tersendiri jika berkunjung atau singgah pada suatu kota yang dilengkapi dengan hutan kota yang unik, indah dan menawan.
  1. Sebagai Hobi dan Pengisi Waktu Luang
Monotonitas, rutinitas, dan kejenuhan kehidupan di kota besar perlu diimbangi oleh kegiatan lain yang bersifat rekreatif, akan dapat menghilangkan monotonitas, rutinitas dan kejenuhan kerja. Fungsi hutan kota ini sangat banyak. Dengan demikian, pengelolaannya harus tetap dikendalikan dengan baik, agar hutan kota dapat berfungsi dengan baik, dan dapat menguntungkan semua masyarakat di kota. Pengelolaannya dilaksanakan secara adil sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Pengelolaan hutan kota dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat setempat.

B.     Tujuan Hutan Kota Malabar
Tujuan dari pada Hutan Kota malabar adalah sebagai berikut :
1.      Membangun sumur resapan di taman kota yangberperan penting terhadap cadangan air tanah.
2.      Pembuatan kolam air yang airnya dimanfaatkan dinas pertamanan untuk menyirami dan merawat taman – taman kota.
3.      Sebagian lahan dapat dimanfaatkan utuk pengolahan sampah terpadu, untuk pemilahan sampah agar dapat dilakukan 3R.
4.      Menciptakan suasana sejuk yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk referensi suasana asri dan mengurangi polusi kota.
5.      Menambah Zona Hijau perkotaan yang semakin sempit karena alih fungsi lahan.
6.      Sebagai sarana rekreasi masyarakat, karena suasana yang sejuk dan cocok untuk mengisi waktu libur.
7.      Sebagai sarana edukasi karena karena banyak tanaman pepohonan dengan nama spesies yang bermacam-macam.
  
C.    Metode Pembangunan Hutan Kota Malabar
1.   Perencanaan
Dalam studi kajian perencanaan aspek yang diteliti meliputi : lokasi, fungsi dan pemanfaatan, aspek tehnik silvikultur, arsitektur lansekap, sarana dan prasarana, tehnik pengelolaan lingkungan. Bahan informasi yang dibutuhkan dalam studi meliputi : (1) Data fisik (letak, wilayah, tanah, iklim dan lain-lain); (2) Sosial ekonomi (aktivitas di wilayah bersangkutan dan kondisinya); (3) Keadaan lingkungan (lokasi dan sekitarnya); (4) Rencana pembangunan wilayah (RUTR,RTK,RTH), serta (5) Bahan-bahan penunjang lainnya.
Hasil studi berupa Rencana Pembangunan Hutan Kota yang terdiri dari tiga bagian, yakni:
1.      Rencana jangka panjang, yang memuat gambaran tentang hutan kota yang dibangun, serta target dan tahapan pelaksanaannya.
2.      Rencana detail yang memuat desain fisik atau rancang bangun untuk masing- masing komponen fisik hutan kota yang hendak dibangun serta tata letaknya.
3.      Rencana tahun pertama kegiatan, meliputi rencana fisik dan biayanya.

2.   Kelembagaan dan Organisasi Pelaksanaannya
Organisasi pembangunan dan pengelolaan hutan kota sangat bergantung kepada perangkat yang ada dan keperluannya. Sistem pengorganisasian di suatu daerah mungkin berbeda dengan daerah lainnya. Salah satu bentuk pengorganisasiannya pembangunan dan pengelolaan hutan walikota atau Bupati sebagai kepala wilayah bertanggung jawab atas pembangunan dan pengembangan hutan kota di wilayahnya. Bidang perencanaan dan pengendalian dipegang oleh Bappeda Tingkat II yang dibantu oleh tim pembina yang terdiri dari Kanwil Departemen Kehutanan, Kanwil Departemen Pertanian dan Perkebunan, Kanwil Departemen Pekerjaan Umum, Kanwil Departemen Kesehatan, Biro Kependudukan dan Lingkungan Hidup dan yang lainnya menurut kebutuhan masing- masing kota atau daerah. Untuk pelaksanaannya dapat ditunjuk dinas-dinas yang berada di wilayahnya.
Pengelolaan hutan kota pada areal yang dibebani hak milik diserahkan kepada pemiliknya, namun dalam pelaksanaannya harus memperhatikan petunjuk dari bidang perencanaan dan pengendalian. Guna memperlancar pelaksanaannya kiranya perlu dipikirkan jasa atau imbalan apa yang dapat diberikan oleh pemerintah kepada yang bersangkutan.

3.   Pemilihan Jenis
Guna mendapatkan keberhasilan dalam mencapai tujuan pengelolaan lingkungan hidup di perkotaan, jenis yang ditanam dalam program pembangunan dan pengembangan hutan kota hendaknya dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan dengan tujuan agar tanaman dapat tumbuh baik dan tanaman tersebut dapat menanggulangi masalah lingkungan yang muncul di tempat itu dengan baik.
Untuk mendapat hasil pertumbuhan tanaman serta manfaat hutan kota yang maksimal, beberapa informasi yang perlu diperhatikan dan dikumpulkan antara lain:
1.      Persyaratan edaphis: pH, jenis tanah, tekstur, altitude,salinitas dan lain-lain.
2.      Persyaratan meteorologis: suhu, kelembaban udara, kecepatan angin, radiasi matahari.
3.      Persyaratan silvikultur: kemudahan dalam hal penyediaan benih dan bibit dan kemudahan dalam tingkat pemeliharaan.
4.      Persyaratan umum tanaman:
·         Tahan terhadap hama dan penyakit
·         Cepat tumbuh
·         Kelengkapan jenis dan penyebaran jenis
·         Mempunyai umur yang panjang
·         Mempunyai bentuk yang indah
·         Ketika dewasa sesuai dengan ruang yang ada
·         Kompatibel dengan tanaman lain
·         Serbuk sarinya tidak bersifat alergis,
5.      Persyaratan untuk pohon peneduh jalan:
·         Mudah tumbuh pada tanah yang padat
·         Tidak mempunyai akar yang besar di permukaan tanah
·         Tanah terhadap hembusan angin yang kuat
·         Dahan dan ranting tidak mudah patah
·         Pohon tidak mudah tumbang
·         Buah tidak terlalu besar
·         Serasah yang dihasilkan sedikit
·         Tahan terhadap pencemar dari kendaraan bermotor dan industri
·         Luka akibat benturan mobil mudah sembuh
·         Cukup teduh, tetapi tidak terlalu gelap
·         Kompatibel dengan tanaman lain
·         Daun, bunga, buah, batang dan percabangannya secara keseluruhan indah
·         Mati
·         Membahayakan
·         Saling berhimpitan,

D.    Keadaan Hutan Kota Malabar
Hutan Kota Malabar ini ada di jalan Malabar, arah timur dari gereja jalan Ijen. Hutan Kota ini luasnya adalah 16.718m2. Di tengah Hutan Kota Malabar terdapat kolam air yang konon menjadi sumber untuk mengairi taman-taman di kota Malang.
Begitu masuk ke dalam Hutan Kota Malabar ini, mulai terasa hawa yang sejuk dan terdengar kicauan burung. Hutan Kota Malabar ini sudah mulai lebat pohonnya, sehingga berada di dekatnya pun akan terasa hawa yang segar.
Sebagai lahan penghijauan yang berlokasi di tengah kota ini, selain sebagai paru-paru kota Malang, Hutan Kota Malabar ini sebenarnya dapat juga dijadikan sebagai alternatif tempat rekreasi yang murah. Seharusnya, pihak pemerintah daerah Malang lebih memperhatikan keserasian, kenyamanan, dan keindahan Hutan Kota ini.
http://blog.ub.ac.id/arfikurniawati/files/2010/10/Photo0246-300x225.jpgSebagai contoh, di sisi utara timur Hutan Kota ini, ada beberapa bangunan semi permanen yang dijadikan sebagai warung. Hal ini dapat mengurangi keindahan dari hutan kota ini. Yang akankah lebih indah dan lebih baik lagi jika warung-warung itu dibuatkan bangunan semacam pujasera atau apalah yang tidak mengurangi keindahan hutan kota sekaligus pengunjung dapat lebih memanfaatkan dan berinteraksi dengan hutan kota, sebagai wahana berlibur dan belajar








Taman merupakan sebuah areal yang berisikan komponen material keras dan lunak yang saling  mendukung satu sama lainnya yang sengaja direncanakan dan dibuat oleh manusia dalam kegunaanya sebagai tempat penyegar dalam dan luar ruangan.
Di kota Malang terdapat sebuah taman hutan kota yang letaknya berada di jalan Malabar yaitu Hutan Kota Malabar. Luas hutan ini kurang lebih 16.718m2*. Di tengah Hutan Kota Malabar terdapat kolam air yang konon menjadi sumber untuk mengairi taman-taman di kota Malang. Hutan kota ini begitu banyak manfaatnya. Bisa digunakan untuk rekreasi karena ditempat ini begitu teduh dan tenang sehingga membuat hati kita menjadi damai. Bisa juga untuk edukasi karena banyak tanaman pepohonan dengan nama spesies yang bermacam-macam.
Begitu masuk ke dalam Hutan Kota Malabar ini, mulai terasa hawa yang sejuk dan terdengar kicauan burung. Hutan Kota Malabar ini sudah mulai lebat pohonnya, sehingga berada di dekatnya pun akan terasa hawa yang segar. Pohon yang ada di hutan kota ini yaitu pohon palm. bringin, cemara, jambu, dll.


http://blog.ub.ac.id/arfikurniawati/files/2010/10/aRfie_puNya047-300x225.jpghttp://blog.ub.ac.id/arfikurniawati/files/2010/10/aRfie_puNya0441-225x300.jpg

Sayangnya Hutan ini sangat kurang adanya perawatan sehingga hutan menjadi banyak nyamuk. Hutan kota ini belum digarap secara maksimal oleh pemkot. Ini terlihat belum adanya fasilitas yang memadai, seperti kursi untuk tempat duduk-duduk dan juga kurang terawatnya spesies yang hidup disini. Ada beberapa petugas yang tiap pagi memotong rumput dan membersihkan sampah-sampah yang ada di dalam taman ini. Tetapi menurut saya masih sangat kurang, karena para pengunjung belum banyak yang tertarik untuk valua ke taman kota ini, hanya beberapa saja.
Di sekitar hutan ini terdapat warung-warung dan juga tempat pangkal ojek. Akankah lebih indah dan lebih baik lagi jika warung-warung itu dibuatkan bangunan semacam pujasera atau apalah yang tidak mengurangi keindahan hutan kota sekaligus pengunjung dapat lebih memanfaatkan dan berinteraksi dengan hutan kota, sebagai wahana berlibur dan belajar.

http://blog.ub.ac.id/arfikurniawati/files/2010/10/aRfie_puNya0821-300x225.jpg http://blog.ub.ac.id/arfikurniawati/files/2010/10/Photo0278-300x225.jpg
 








Yang menjadikan hutan itu kurang dipandang indah oleh masyarakan yaitu terdapat tempat pengolahan sampah yang dapat dijadikan pupuk sehingga aroma bau di beberapa tempat di sekitar hutan ini tidak enak karena bau sampah tadi. Bila musim hujan tanah yang berada di dalam taman ini agak becek karena masih terbuat dari tanah.
http://blog.ub.ac.id/arfikurniawati/files/2010/10/aRfie_puNya0931-300x225.jpghttp://blog.ub.ac.id/arfikurniawati/files/2010/10/Photo0271-225x300.jpg



Pada pagi hari sedikit sekali pengunjung yang valua ke hutan kota ini, yang tampak hanyalah orang-orang yang bekerja untuk mengolah sampah menjadi pupuk.  Tempat ini sepertinya belum banyak dikunjungi orang karena selain kurangnya perawatan tadi dan letaknya kurang strategis. Pada malam hari hutan kota ini sebagai tempat esek-esek karena begitu sepi dan rindang. Jarang sekali orang pada malam hari berkunjung ke taman ini. Walaupun begitu tetapi keadaan disekitar taman ini cukup ramai oleh kendaraan. Karena sepanjang jalan ini merupakan jalan pintas yang biasa di lewati oleh masyarakat Malang.

E.     Kelimpahan dan Kekayaan Hayati Hutan Kota Malabar
Jenis vegetasi besar yang ditanam di wilayah Hutan Kota Malabar antara lain adalah:
1.      Pohon Palem (Hyophorbe sp.)
2.      Pohon Cemara (Casuarina sp.)
3.      Pohon Jati (Tectona grandis L.f.)
4.      Pohon Beringin (Ficus benjamina L)
5.      Pohon Kelapa (Cocos nucifera L.)
6.      Pohon Pinus (Pinus markusii)
7.      Pohon Mahoni (Swietenia mahagoni)
8.      Pohon Akasia/Wangkal (Albizia procera)

A.    PALEM ( Hyophorbe sp.)
a)  Klasifikasi
•    Kingdom         : Plantae
•    Sub Kingdom  : Tracheobionta
•    Super Divisi    : Spermatophyta
•    Divisi               : Magnoliophyta
•    Kelas               : Liliopsida
•    Sub Kelas        : Arecidae
•    Ordo                : Arecales
•    Famili              : Arecaceae
•    Genus              : Hyophorbe
•    Spesies            : Hyophorbe sp.
b)  Habitat
Sangat baik tumbuh di daerah hangat dengan sinar matahari penuh dan suplai air yang melimpah pada tanah subur. Dapat tumbuh dari pantai – 1400 m dpl. Tumbuh liar di hutan primer atau sekunder, banyak dijumpai di sekitar perkampungan.
c)  Habitus
Habitus tumbuhan Palem adalah tegak, sedangkan perawakannya adalah pohon.
d) Deskripsi
Palem pohon yang tidak bercabang-cabang dan tunggal, mati setelah berbunga, bisa mencapai 20 m.dengan diameter 30-65 cm. Batang ditutupi oleh bekas pangkal tangkai daun dan serat-serat panjang berwarna hitam keabu-abuan. Daun menyirip dengan panjang 6- 10 m, tangkai daun 1-1,5 m dengan pelepah daun pada pangkalnya. Perbungaan berumah satu, tumbuh di antara ketiak daun, merunduk kadang-kadang lebih dari 2 m panjangnya, bunga betina ada di ujung dan bunga jantan tumbuh di bagian bawah batangnya. Buahnya seperti buah batu, bulat sampai bulat telur dengan panjang 5-8 cm, berdaging, terdiri dari 2 – 3 biji berwarna hitam.
e) Manfaat
Semua bagian tumbuhan palem dapat dimanfaatkan untuk banyak produk. Batang mengandung teras pati yang lunak dengan banyak serabut kasar dan berkayu; pati dapat diekstrak dari empulur batang. Produk makanan yang berasal dari pati biasanya untuk membuat makanan khusus seperti `bakso` (Indonesia), dan tempoyak yang dibuat dari palem kumbang (Rynchophorus ferrugineus) yang dibusukkan pada batang-batang yang jatuh dan dapat dimakan secara segar, digoreng atau dikukus. Produk utama lainnya yang berasal dari sadapan tangkai perbungaan adalah sari beraroma manis:nira (bentuk segar) dan toddy (bentuk fermentasi), cuka dihasilkan dari fermentasi yang terus menerus, alkohol dapat disuling dari anggur palem dan khamir yang dibuat dari residu yang disimpan selama fermentasi.
    B. CEMARA (Casuarina sp.)
a) Klasifikasi
·         Kingdom         : Plantae
·         Subkingdom    : Tracheobionta
·         Super Divisi    : Spermatophyta
·         Divisi               : Magnoliophyta
·         Kelas               : Magnoliopsida
·         Sub Kelas        : Hamamelidae
·         Ordo                : Casuarinales
·         Famili              : Casuarinaceae 
·         Genus              : Casuarina
·         Spesies            : Casuarina sp.
b) Habitat
Pohon cemara merupakan pohon yang val kita temukan di mana saja dan kapan saja asalkan daerah itu tanahnya berpasir berkapur, banyak air ataupun yang mempunyai kadar keasaman cukup tinggi.
c) Habitus
Habitus atau perawakan dari pohon cemara adalah Pohon
d) Deskripsi
Tumbuhan cemara termasuk dalam klasifikasi tumbuhan berbiji. Tumbuhan berbiji atau Spermatophyta (Yunani, sperma = biji , phyton = tumbuhan) merupakan kelompok tumbuhan yang memiliki valu khas, yaitu adanya suatu organ yang berupa biji. Biji merupakan bagian yang berasal dari bakal biji dan di dalamnya mengandung calon individu baru, yaitu lembaga. Lembaga akan terjadi setelah terjadi penyer bukan atau persarian yang diikuti oleh pembuahan. 
e) Manfaat
Mempunyai daya jual yang sangat tinggi dalam valuati perkayuan. Semua bagian pohon cemara val dimanfaatkan mulai dari kayu,getah , ranting,biji hingga daunnya mempunyai kegunaan yang bernilai ekonomi tinggi. Pohon cemara juga banyak digunakan sebagai tanaman hias di taman atau di halaman rumah.

C.   JATI  (Tectona grandis L.f.)
a) Klasifikasi
·         Kingdom         : Plantae
·         Subkingdom    : Tracheobionta
·         Super Divisi    : Spermatophyta
·         Divisi               : Magnoliophyta
·         Kelas               : Magnoliopsida
·         Sub Kelas        : Asteridae
·         Ordo                : Lamiales
·         Famili              : Lamiaceae
·         Genus              : Tectona
·         Spesies            : Tectona grandis L.f.
b) Habitat
Habitat dari pohon jati ( Tectona grandis L.f.) adalah di tanah dan tempat yang ada cahaya matahari karena dia bersifat autotrof.
c) Habitus
Habitus dari pohon jati (Tectona grandis L.f.) adalah Pohon

d) Deskripsi
Pohon cemara mempunyai bentuk daun yang runcing. Daunnya yang runcing berguna untuk mengurangi penguapan. Bentuk daun tersebut merupakan adaptasi pohon cemara terhadap lingkungan yang panas.
e) Manfaat
Jati berfungsi untuk mendukung kesuburan tanah. Ini karena akar pepohonan dalam hutan jati tumbuh melebar dan mendalam. Pertumbuhan akar ini akan membantu menggemburkan tanah, sehingga memudahkan air dan udara masuk ke dalamnya. Tajuk (mahkota hijau) pepohonan dan tumbuhan bawah dalam hutan jati akan menghasilkan serasah, yaitu jatuhan ranting, buah, dan bunga dari tumbuhan yang menutupi permukaan tanah hutan. Serasah menjadi bahan dasar untuk menghasilkan humus tanah. Berbagai mikroorganisme hidup berlindung dan berkembang dalam serasah ini. Uniknya, mikroorganisme itu juga yang akan memakan dan mengurai serasah menjadi humus tanah. Serasah pun membantu meredam entakan air hujan sehingga melindungi tanah dari erosi oleh air. Dengan kata lain, pohon jati sebagai penyangga ekosistem.
Tumbuhan jati juga banyak dimanfaatkan sebagai peneduh, penyimpan air, penyerap karbon dioksida, dan juga terdapat oksigen didalamnya, oleh karena itu dapat bermanfaat sebagai sumber oksigen.
Tumbuhan jati juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuat furniture kayu. Seperti almari, meja kursi dan perabotan-perabotan kayu lainnya. Kayu jati tersebut tahan lama.

D.   BERINGIN (Ficus benjamina L.)
a) Klasifikasi
·         Kingdom         : Plantae
·         Subkingdom    : Tracheobionta
·         SuperDivisi     : Spermatophyta
·         Divisi               : Magnoliophyta
·         Kelas               : Magnoliopsida
·         Sub Kelas        : Dilleniidae
·         Ordo                : Urticales
·         Famili              : Moraceae
·         Genus              : Ficus
·         Spesies            : Ficus benjamina L.
b) Habitat
Tumbuh di tanah dan ada yang bersifat hemi-epifit. Beringin merupakan tanaman yang memiliki kemampuan hidup dan beradaptasi dengan bagus pada berbagai kondisi lingkungan. Selain itu juga sering dijupai di kawasan hutan. Beringin merupakan tanaman yang mampu hidup di berbagai macam kondisi lingkungan yang ekstrim, salah satunya adalah diatas batu. Dengan akar yang kuat tanaman tersebut mampu mecengkram batu yang besar dan menahannya agar tidak jatuh ke bawah.
c) Habitus
Habitus atau perawakan dari pohon Beringin ( Ficus benjamina L.) adalah Pohon
d) Deskripsi
Pohon besar, diameter batang val mencapai 2 m lebih, tinggi val mencapai 25 m. Batang tegak bulat, permukaan kasar, coklat kehitaman, keluar akar menggantung dari batang. Daun tunggal, lonjong, hijau, panjang 3 – 6 cm, tepi rata, letak bersilang berhadapan. Bunga tunggal, keluar dari ketiak daun, kelopak bentuk corong, kuning kehijauan. Buah buni, bulat kecil, panjang 0.5 – 1 cm Perbanyakan dengan biji. Struktur perakarannya yang dalam dan akar lateral yang mencengkeram tanah dengan baik
e) Manfaat
Manfaat dari pohon beringin (Ficus benjamina L.) sebagai valuativ proses terjadinya suksesi hutan. Selain itu beringin dengan valua perakaran yang kuat dan dalam merupakan tanaman yang mampu menjadi penahan erosi tanah. Beringin juga berfungsi sebagai tanaman yang mampu meningkatkan biodiversity pada kawasan produksi.

E.    POHON KELAPA (Cocos nucifera L.)
a)  Klasifikasi
·         Kingdom         : Plantae
·         Subkingdom    : Tracheobionta
·         Super Divisi    : Spermatophyta
·         Divisi               : Magnoliophyta
·         Kelas               : Liliopsida
·         Sub Kelas        : Arecidae
·         Ordo                : Arecales
·         Famili              : Arecaceae
·         Genus              : Cocos
·         Spesies            : Cocos nucifera L.
b)  Habitat
Kelapa tumbuh  di atas permukaan tanah,kelapa tahan  atau val hidup didaerah yang panas. Sinar matahari sangat dibutuhkan untuk  fotosintesis dan pertumbuhan tumbuhan.
c)    Habitus
Habitus dari pohon kelapa (Cocos nucifera L.) adalah pohon
d)    Deskripsi
Batang tunggal atau kadang-kadang bercabang.Akar serabut, tebal dan berkayu, berkerumun membentuk bonggol, adaptif pada lahan berpasir pantai. Batang beruas-ruas namun bila sudah tua tidak terlalu tampak, khas tipe monokotil dengan pembuluh menyebar (tidak konsentrik), berkayu. Kayunyakurang baik digunakan untuk bangunan. Daun tersusun secara majemuk, menyirip sejajar tunggal, pelepah pada ibu tangkai daun pendek, duduk pada batang, warna daun hijau kekuningan. Bunga tersusun majemuk pada rangkaian yang dilindungi oleh bractea; terdapat bunga jantan dan betina, berumah satu, bunga betina terletak di pangkal karangan, sedangkan bunga jantan di bagian yang jauh dari pangkal. Buah besar, diameter 10 cm sampai 20 cm atau bahkan lebih, berwarna kuning, hijau, atau coklat; buah tersusun darimesokarp berupa serat yang berlignin, disebut sabut, melindungi bagian endokarp yang keras (disebut batok) dan kedap air; valuati melindungi biji yang hanya dilindungi oleh valuati yang melekat pada sisi dalam valuati. Endospermium berupa cairan yang mengandung banyak enzim, dan fase padatannya mengendap pada dinding valuati ketika buah menua; embrio kecil dan baru membesar ketika buah siap untuk berkecambah (disebut kentos).
e)    Manfaat
 Akar kelapa menginspirasi penemuan teknologi penyangga bangunan Cakar Ayam(dipakai misalnya pada Bandar Udara Soekarno Hatta) olehSedijatmo.Batangnya, yang disebut glugudipakai orang sebagai kayu dengan mutu menengah, dan dapat dipakai sebagai papan untuk rumah.Daunnya dipakai sebagai atap rumah setelah dikeringkan. Daun muda kelapa, disebut janur, dipakai sebagai bahan anyaman dalam pembuatan ketupat atau berbagai bentuk hiasan yang sangat menarik, terutama oleh masyarakatJawa dan Bali dalam berbagai upacara, dan menjadi bentuk kerajinan tangan yang berdiri sendiri (seni merangkai janur). Tangkai anak daun yang sudah dikeringkan, disebut lidi, dihimpun menjadi satu menjadi sapu.Tandan bunganya, yang disebut mayang (sebetulnya nama ini umum bagi semua bunga palma), dipakai orang untuk hiasan dalam upacara perkawinan dengan valua tertentu. Bunga betinanya, disebut bluluk (bahasa Jawa), dapat dimakan. Cairan manis yang keluar dari tangkai bunga, disebut (air) nira atau legèn (bhs. Jawa), dapat diminum sebagai penyegar atau difermentasi menjadi tuak. Bagian dalam tempurung kelapa, memperlihatkan “daging” buah kelapa.
Buah kelapa adalah bagian paling bernilai ekonomi. Sabut, bagian mesokarpyang berupa serat-serat kasar, diperdagangkan sebagai bahan bakar, pengisijok kursi, anyaman tali, keset, serta media tanam bagi anggrek. Tempurung atau batok, yang sebetulnya adalah bagian endokarp, dipakai sebagai bahan bakar, pengganti gayung, wadah minuman, dan bahan baku berbagai bentukkerajinan tangan. Es kelapa muda atau es degan.
Endosperma buah kelapa yang berupa cairan serta endapannya yang melekat di dinding dalam batok (“daging buah kelapa”) adalah sumber penyegar valuat. Daging buah muda berwarna putih dan lunak serta biasa disajikan sebagai es kelapa muda atau es degan. Cairan ini mengandung beraneka enzim dan memilki khasiat penetral racun dan efek penyegar/penenang. Beberapa kelapa bermutasi sehingga endapannya tidak melekat pada dinding batok melainkan tercampur dengan cairan endosperma. Mutasi ini disebut(kelapa) kopyor. Daging buah tua kelapa berwarna putih dan mengeras. Sarinya diperas dan cairannya dinamakan santan. Daging buah tua ini juga dapat diambil dan dikeringkan serta menjadi komoditi perdagangan bernilai, disebut kopra. Kopra adalah bahan baku pembuatan minyak kelapa dan turunannya. Cairan buah tua kelapa biasanya tidak menjadi bahan minuman penyegar dan merupakan limbah valuati kopra. Namun demikian dapat dimanfaatkan lagi untuk dibuat menjadi bahan semacam jelly yang disebutnata de coco dan merupakan bahan campuran minuman penyegar. Daging kelapa juga dapat dimanfaatkan sebagai penambah aroma pada daging serta dapat dimanfaatkan sebagai obat rambut yang rontok dan mudah patah.

F.    POHON PINUS (Pinus merkusii)
a) Klasifikasi
·         Kingdom         : Plantae
·         Subkingdom    : Tracheobionta
·         Super Divisi    : Spermatophyta 
·         Divisi               : Coniferophyta 
·         Kelas               : Pinopsida 
·         Ordo                : Pinales
·         Famili              : Pinaceae 
·         Genus              : Pinus
·         Spesies            : Pinus merkusii
b) Habitat
Pinus merkusii umum tumbuh di Sumatra utara hingga ketinggian 2000 m dpl.
c) Habitus
Habitus atau perawakan tumbuhan Pinus (Pinus merkusii) adalah pohon, termasuk dalam tumbuhan reklamasi atau perintis.
d)    Deskripsi
Pohon besar dengan tinggi mencapai 50(—70) m, berbatang lurus dan bulat, berdiamater rata-rata 55 cm tapi terkadang dapat mencapai hingga 140 cm; daun-daun berbentuk jarum, ramping namun kaku, dan tersusun berpasangan (needles in pairs), panjang daun 16—25 cm, strobilus muncul soliter atau berpasangan dan posisinya terhadap batang valua duduk, strobilus berbentuk silinder dengan panjang 5—11 cm, strobilus segera gugur setelah merekah hingga mencapai bentuk bulat telur; sisik-sisik strobilus berbentuk persegi panjang dengan permukaan yang halus sedangkan bagian ujung strobilus agak bulat pejal; biji kecil bersayap mudah gugur dengan panjang sekitar 2.5 cm
e)    Manfaat
Pohon Pinus umumnya digunakan sebagai sumber bahan bangunan, pulp dan juga campuran dalam pembuatan kertas. Penanaman pohon Pinus dapat menghambat pertumbuhan alang-alang dengan baik. Tumbuhan ini termasuk tumbuhan yang dapat digunakan untuk memulihkan kembali lahan-lahan kritis.

    G. Pohon Mahogani (Swietenia mahagoni)
a) Klasifikasi
·         Kingdom         : Plantae
·         Subkingdom    : Tracheobionta
·         Super Divisi    : Spermatophyta
·         Divisi               : Magnoliophyta
·         Kelas               : Magnoliopsida
·         Sub Kelas        : Rosidae
·         Ordo                : Sapindales
·         Famili              : Meliaceae 
·         Genus              : Swietenia
·         Spesies            : Swietenia mahagoni (L.) Jacq.
b) Habitat
Mahoni dapat tumbuh dengan subur di pasir payau dekat dengan pantai dan menyukai tempat yang cukup sinar matahari langsung.
c) Habitus
Habitus atau perawakan tumbuhan valuati (Swietenia mahagoni) adalah pohon.
d)    Deskripsi
Mahoni termasuk pohon besar dengan tinggi pohon mencapai 35-40 m dan diameter mencapai 125 cm. Batang lurus berbentuk silindris dan tidak berbanir. Kulit luar berwarna cokelat kehitaman, beralur dangkal seperti sisik, sedangkan kulit batang berwarna abu-abu dan halus ketika masih muda, berubah menjadi cokelat tua, beralur dan mengelupas setelah tua. Mahoni baru berbunga setelah berumur 7 tahun, mahkota bunganya silindris, kuning kecoklatan, benang sari melekat pada mahkota, kepala sari putihkuning kecoklatan. Buahnya buah kotak, bulat telur, berlekuk lima, warnanya cokelat. Biji pipih, warnanya hitam atau cokelat.  Mahoni dapat ditemukan tumbuh liar di hutan jati dan tempat-ternpat lain yang dekat dengan pantai, atau ditanam di tepi jalan sebagai pohon pelindung.
e)    Manfaat
Pohon mahoni val mengurangi polusi udara sekitar 47% - 69% sehingga disebut sebagai pohon pelindung sekaligus filter udara dan daerah tangkapan air. Daun-daunnya bertugas menyerap polutan-polutan di sekitarnya. Sebaliknya, dedaunan itu akan melepaskan oksigen (O2) yang membuat udara di sekitarnya menjadi segar. Ketika hujan turun, tanah dan akar-akar pepohonan itu akan mengikat air yang jatuh, sehingga menjadi cadangan air. Buah mahoni mengandung flavonoid dan saponin. Buahnya dilaporkan dapat melancarkan peredaran darah sehingga para penderita penyakit yang menyebabkan tersumbatnya aliran darah disarankan memakai buah ini sebagai obat, mengurangi kolesterol, penimbunan lemak pada saluran darah, mengurangi rasa sakit, pendarahan dan lebam, serta bertindak sebagai antioksidan untuk menyingkirkan radikal bebas, mencegah penyakit sampar, mengurangi lemak di badan, membantu meningkatkan valua kekebalan, mencegah pembekuan darah, serta menguatkan fungsi hati dan memperlambat proses pembekuan darah. Sifat Mahoni yang dapat bertahan hidup di tanah gersang menjadikan pohon ini sesuai ditanam di tepi jalan. Kualitas kayunya keras dan sangat baik untuk meubel, valuativ, barang-barang ukiran dan kerajinan tangan. Sering juga dibuat penggaris karena sifatnya yang tidak mudah berubah. Kualitas kayu mahoni berada sedikit dibawah kayu jati sehingga sering dijuluki sebagai primadona kedua dalam pasar kayu. Pemanfaatan lain dari tanaman mahoni adalah kulitnya dipergunakan untuk mewarnai pakaian. Kain yang direbus bersama kulit mahoni akan menjadi kuning dan tidak mudah luntur. Sedangkan getah mahoni yang disebut juga blendok dapat dipergunakan sebagai bahan baku lem, dan daun mahoni untuk pakan ternak.

H. Pohon Akasia (Acacia auriculiformis A. Cunn. Ex Benth.)
a) Klasifikasi
·         Kingdom         : Plantae
·         Subkingdom    : Tracheobionta
·         Super Divisi    : Spermatophyta
·         Divisi               : Magnoliophyta
·         Kelas               : Magnoliopsida
·         Sub Kelas        : Rosidae
·         Ordo                : Fabales
·         Famili              : Fabaceae
·         Genus              : Acacia
·         Spesies            : Acacia auriculiformis A. Cunn. Ex Benth.
b) Habitat
Penyebaran jenis ini mencakup Australia Timur Laut, Papua Nugini, Maluku dan Irian Jaya. Pohon Akasia tumbuh pada daerah dengan curah hujan tahunan dengan variasi antara 1.000 mm/th sampai lebih dari 4.500 mm/th dan mempunyai suhu rata-rata 12-16 ºC 
c) Habitus
Habitus atau perawakan pohon Akasia (Acacia auriculiformis A. Cunn. Ex Benth) adalah pohon.
d)    Deskripsi
Akasia termasuk kedalam kelompok pohon yang hijau sepanjang tahun (evergreen). Tinggi pohon dapat mencapai 30 meter dengan tinggi bebas cabang mencapai setengah dari tinggi total. Kulit Akasia berwarna abu-abu atau cokelat dengan tekstur yang kasar dan berkerut. Daun berupa philodia (daun palsu) yang berukuran besar berwarna hijau gelap, dengan ukuran panjang mencapai 25 cm dan lebar antara 3-10 cm. Bunga berkelamin ganda dengan warna putih atau kuning. Kayu Akasia memiliki valu umum antara lain kayu teras berwarna cokelat pucat sampai cokelat tua, kadang-kadang cokelat zaitun sampai cokelat kelabu, batasnya tegas dengan gubal yang berwarna kuning pucat sampai kuning jerami. Sifat fisik kayu Akasia yaitu berat jenis rata-rata 0,63 (0,43-0,66); termasuk kedalam kelas awet III dan kelas kuat II-III.
e)    Manfaat
Kegunaan utama kayu Akasia adalah sebagai bahan baku pembuatan kertas, fungsi lainnya sebagai kayu bakar, kayu konstruksi dan bahan baku furniture. Tegakannya berguna sebagai pengendali erosi, tempat tinggal bagi hewan dan sebagai peneduh. Sifat yang bernilai dari jenis ini adalah kemampuannya untuk berkompetisi dengan rumput (Imperata valuative), sehingga dapat mengurangi jumlah rumput pada tanah yang penutupan lahannya jarang. . Kegunaan lainnya adalah sebagai bahan baku konstruksi ringan sampai berat, rangka pintu dan jendela, perabot rumah tangga, lantai, papan dinding, tiang, tiang pancang, selain itu baik juga untuk kayu bakar dan arang
Daun dan kulit batang pohon akasia juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit desentri.

            Selain pohon-pohon besar, terdapat juga tanaman-tanaman yang sengaja ditanam untuk menghijaukan kawasan hutan kota Malabar ini. Berikut data vegetasi lain yang dapat ditemukan di hutan kota Malabar Malang dilengkapi dengan jumlahnya :
Jenis Vegetasi
Jumlah Vegetasi
Asam Belanda
55
Akasia
10
Agave
8
Belimbing
2
Belimbing Wuluh
5
Beringin
1
Beringin Daun Panjang
4
Beringin Daun Karet
7
Bisbull
2
Bintaro
9
Bungur
11
Bambu
4
Cemara Angin
14
Ceri
14
Cermei
11
Dadap Hutan
8
Dadap Merah
17
Daun Mentega
1
Dewandaru
16
Duku
1
Elo
15
Filicium
3
Flamboyan
106
Gembilina
52
Genitu
23
Glodokan Lokal
14
Glodokan Tiang
102
Gayam
2
Jambu Air
2
Jati Mas
36
Jatropa
3
Juwet
11
Kelengkeng
1
Kantil
17
Ketepeng
3
Kemiri
4
Kelapa Sawit
14
Kelapa
3
Kleri
3
Kluwek
34
Kupu-kupu
4
Kayu Manis
13
Kayu Putih
32
Keben
4
Lamtoro
2
Mangga
6
Matoa
16
Mindi
13
Palem Raja
19
Pinus
17
Pucuk Merah
1
Sono Kembang
114
Sawo Kecik
8
Spatudea
4
Saman
11
Salam
2
Soka
4
Soga
2
Sukun
8
Sengon Butho
23
Tanjung
90

F.     Komponen Ekosistem di Hutan Kota Malabar
No.
Faktor Abiotik
Faktor Biotik
1.       
Air
Palem (Hyophorbe sp.)
2.       
Tanah
Cemara (Casuarina sp.)
3.       
Udara
Pohon Jati (Tectona grandis L.f.)
4.       
Batu
Pohon Beringin (Ficus benjamina L)
5.       
-
Pohon Kelapa (Cocos nucifera L.)
6.       
-
Pohon Pinus (Pinus markusii)
7.       
-
Serangga
8.       
-
Kupu – kupu
9.       
-
Burung
10.   
-
Ulat
11.   
-
Kucing
12.   
-
Anjing
13.   
-
Cacing Tanah


G.    Pemanfaatan Sumber Daya Hutan Kota Malabar
            Di hutan kota Malabar ini terdapat beberapa sumber daya yang dapat dimanfaatkan antara lain seperti pemanfaatan air, pemanfaatan tanaman, pemanfaatan hewan di lingkungan sekitar hutan kota Malabar, dengan penjabaran sebagai berikut :
·         Taman ini dipenuhi oleh tanaman yang mana menghasilkan suatu manfaat berupa penghasil oksigen bagi lingkungan sekitarnya.
·         Tanaman di taman ini juga dapat memiliki fungsi sebagai penyerap air ke dalam tanah, maka dari itu hutan kota Malabar ini juga berfungsi sebagai daerah resapan air
·         Burung-burung memanfaatkan dahan dan ranting tanaman sebagai tempat tinggal/sarang mereka. Keberadaan burung-burung ini juga membantu terjadinya penyerbukan bagi tanaman di dalamnya.
·         Cacing tanah membantu menggemburkan dan menyuburkan tanah di hutan ini dan juga membuat lubang jalur resapan air
·         Air di dalam hutan kota ini dimanfaatkan dengan cara pengolahan sederhana yang kemudian digunakan kembali untuk mengairi areal hutan.
·         Air juga diserap ke dalam tanah di hutan ini guna mengembalikan keberadaan air tanah

H.    Pengaruh Hutan Kota Malabar Pada Lingkungan
Kota Malang merupakan salah satu kota di Indonesia yang dikatakan sebagai sebuah kota yang sudah berkembang dengan pesat. Hal ini yang dilihat dari makin banyaknya pembangunan infrastruktur dan perekonomian di Kota Malang. Namun perkembangan ini memiliki efek samping yang negative, salah satunya adalah makin sempitnya lahan yang digunakan sebagai daerah peresapan air sehingga makin sedikit Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Malang. Banyak sekali alih fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) menjadi area permukiman dan perbelanjaan modern seperti mall dan sebagainya.
Perkembangan Kota Malang yang cenderung mengalihfungsikan RTH (ruang terbuka hijau) menjadi kawasan terbangun menyebabkan menurunnya produksi oksigen kota Malang. Alih fungsi RTH menyebabkan peningkatan area-area yang diperkeras dengan material yang tidak memungkinkan bagi tanaman untuk tumbuh.
Maka, perlu adanya hutan kota sebagai valua RTH merupakan sub valua kota, sebuah ekosistem dengan valua terbuka. Apabila peningkatan produksi oksigen melalui penambahan dan perluasan hutan kota sulit dilakukan, perlu adanya upaya optimasi yaitu dengan mengoptimalkan produksivitas oksigen pada lahan-lahan yang dialokasikan sebagai hutan kota.
Dengan adanya hutan kota dapat memberikan kota yang nyaman sehat dan indah (estetis). Kita sangat membutuhkan hutan kota, untuk perlindungan dari berbagai masalah lingkungan perkotaan. Hutan kota mempunyai banyak fungsi (kegunaan dan manfaat). Hal ini tidak terlepas dari peranan tumbuh-tumbuhan di alam. Tumbuh-tumbuhan sebagai produsen pertama dalam ekosistem, mempunyai berbagai macam kegiatan metabolisme untuk ia hidup, tumbuh dan berkembang. Kegiatan metabolisme tumbuh-tumbuhan dimaksud telah memberikan keuntungan dalam kehidupan kita. Karena tidak ada satu makhlukpun yang dapat hidup tanpa tumbuh-tumbuhan.
Menurut Nazaruddin (1996) menyatakan bahwa hutan kota mempunyai manfaat-manfaat yang val dirasakan dalam kehidupan masyarakat perkotaan, yaitu antara:
1.      Manfaat estetis
Manfaat estetis atau keindahan dapat diperoleh dari tanaman-tanaman yang sengaja ditata sehingga tampak menonjol keindahannya. Misalnya, warna hijau dan aneka bentuk dedaunan serta bentuk susunan tajuk berpadu menjadi suatu pandangan yang menyejukkan.
2.      Manfaat orologis
Manfaat orologis ini penting untuk mengurangi tingkat kerusakan tanah terutama longsor dan menyangga kestabilan tanah. Misalnya, pepohonan yang tumbuh di atas tanah akan mengurangi erosi.
3.      Manfaat hidrologis
Struktur akar tanaman mampu menyerap kelebihan air apabila hujan turun sehingga tidak mengalir dengan sia-sia melainkan dapat terserap oleh tanah. Hal ini sangat mendukung daur alami air tanah sehingga dapat menguntungkan kehidupan manusia.
4.      Manfaat klimatologis
Faktor-faktor iklim seperti kelembaban, curah hujan, ketinggian tempat dan sinar matahari akan membentuk suhu harian maupun bulanan yang sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan manusia.
5.      Manfaat edaphis
Manfaat edaphis berhubungan erat dengan lingkungan hidup satwa di perkotaan yang semakin terdesak lingkungannya dan semakin berkurang tempat huniannya.
6.      Manfaat ekologis
Keserasian lingkungan bukan hanya baik untuk satwa, tanaman atau manusia saja. Kehidupan makhluk hidup di valuati saling ketergantungan. Apabila salah satunya musnah maka makhluk hidup lainnya akan terganggu hidupnya.
7.      Manfaat protektif
Pohon dapat menjadi pelindung dari teriknya sinar matahari di siang hari. Manfaat ini sangat penting bagi kehidupan manusia sehari-hari.



8.      Manfaat hygienis
Dengan adanya tanaman bahaya polusi ini mampu dikurangi karena dedaunan tanaman mampu menyaring debu dan mengisap kotoran di udara, bahkan tanaman mampu menghasilkan gas oksigen yang sangat dibutuhkan manusia.
9.      Manfaat edukatif
Semakin langkanya pepohonan yang hidup di perkotaan membuat sebagian warganya tidak mengenal lagi, sehingga penanaman kembali pepohonan di perkotaan dapat bermanfaat sebagai laboratorium alam.

I.       Analisa Pola Penataan Hutan Kota Malabar
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh A . Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode analisis deskriptif (identifikasi karakteristik lansekap hutan kota), metode analisis valuative (menghitung produksi oksigen dari vegetasivegetasipenyusun hutan Kota Malang), dan analisis development (membuat model pengembangan vegetasi hutan kota, dan menentukan arah pengembangan hutan kota). Berdasarkan hasil analisis karakteristik terhadap hutan kota Malang diketahui bahwa hutan kota Malang berbentuk bergerombol dan menumpuk dengan produksi oksigen tertinggi sebesar 7,8 ton berada pada hutan kota Malabar. Arahan pengembangan vegetasi hutan Kota Malang lebih menitikberatkan pada kecermatan pembuatan model pengembangan vegetasi hutan kota. Vegetasi berupa tegakan (stratum B, C dan D) akan dikembangkan melalui tata cara penanaman vegetasi (Tata caraperencanaan teknik lansekap jalan, 1996) sedangkan vegetasi pelantai (stratum E) akan dikembangkan dengan asumsi bahwa pada setiap bagian hutan kota memiliki luas penutupan = 100%. Pengembangan hutan Kota Malang melalui penerapan model pengembangan vegetasi hutan kota terbukti mampu meningkatkan produksi oksigen Kota Malang. Produksi oksigen Kota Malang meningkat sebesar 40.039.978,01 gram atau lebih tinggi149,12% lebih tinggi dari pada kondisi eksisting.
Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa perubahan penyusutan ruang terbuka hijau kota Malang tahun 1995 sampai 2005 sebesar 4,6% dari total luas ruang terbuka hijau kota Malang tahun 1995. Kapasitas infiltrasi kota Malang bervariasi, kapasitas infiltrasi tertinggi di Hutan Arjosari Blimbing sebesar 1797,81 cm/hari, sedangkan kapasitas infiltrasi terendah pada Taman Serayu yaitu sebesar 30,64 cm/hari. Tingkat infiltrasi kota Malang termasuk kelas sangat tinggi atau >53 mm/jam, hal ini menunjukkan bahwa kota Malang merupakan daerah resapan air yang sangat baik. Total kontribusi ruang terbuka hijau dengan luas keseluruhan 49277,5 m2 memberikan supplay air tanah sebesar 13594,536 m3/jam.
Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan ruang terbuka hijau yang ada di kota Malang untuk tetap dipertahankan bahkan menambah tanaman karena ruang terbuka hijau akan berperan terhadap pengurangan banjir atau genangan tidak wajar pada musim penghujan dan mempunyai potensi untuk imbuhan air tanah pada musim kemarau. Penelitian lebih lanjut mengenai ruang terbuka hijau kota Malang yang berfungsi sebagai kawasan resapan air hujan, disarankan menggunakan metode dengan tidak menggenangkan air, metode plot misalnya dan mengambil lokasi pengukuran infiltrasi di ruang terbuka hijau yang sudah ditetapkan oleh dinas pertamanan sebagai daerah resapan air.

K.    Kesimpulan
     Dari pengamatan tersebut, dapat disimpulkan bahwa hutan kota merupakan suatu ruang terbuka hijau yang berada di perkotaan yang berfungsi secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat sekitarnya. Akan tetapi, bila dibandingkan dengan hutan-hutan kota yang ada di luar negeri, Hutan Kota Malabar berada pada tingkatan yang jauh di bawah. Melihat dari 11 taman kota terbaik di dunia, ternyata Indonesia tidak termasuk di dalamnya. Termasuk hutan kota Malabar yang tidak sesuai dengan standar internasional. Berarti Indonesia belum memiliki standar hutan kota skala internasional.
L.     Saran
     Setelah dilakukan observasi area hutan kota Malabar ini, masih diperlukan fasilitas penunjang untuk membuat pengunjung agar lebih tertarik untuk mengunjungi hutan kota Malabar ini, diantaranya adalah kursi atau semacam gazebo untuk tempat duduk, tempat sampah














DAFTAR PUSTAKA

Amirullah, Andi. 2012. Budi daya Palem. http://amiere.multiply.com/journal/item/
Dahlan, E. N., 2002. Hutan Kota : Untuk Pengelolaan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup. Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Http://www.w3.org/TR/REC-html40.
 Departemen Kehutanan Republik Indonesia. 2002. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2002 Tentang Hutan Kota. Jakarta : Dephut RI.
Nazaruddin, Ir. 1997. Palem Hias. Jakarta : Penebar Swadaya
Plantamor. 2012. Jenis-jenis Tumbuhan.  http://www.plantamor.com.
Proboyanti,  Ayu Hana. 2006. Pemetaan perubahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan kontribusinya sebagai kawasan resapan air hujan untuk imbuhan air tanah di Kota Malang. Universitas Negeri Malang
Sibarani, J. P., 2003. Potensi Kampus Universitas Sumatera Utara Sebagai Salah Satu Hutan Kota di Kota Medan. Fakultas Pertanian Program Studi Budidaya Hutan, Universitas Sumatera Utara.

No comments:

Post a Comment